www.linghauviral.my.id

DANA BOS SMAN TUGUMULYO: ANGGARAN MILIARAN RUPIAH, LSM GPKD ENDUS DUGAAN KORUPSI

 

‎Linggauviral | LMUSI RAWAS – Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) di SMAN Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas kini menjadi sorotan publik. Dari hasil penelusuran awak media di lapangan serta analisis data anggaran yang dihimpun, ditemukan sejumlah pos belanja yang dinilai tidak wajar dan berpotensi mengarah pada dugaan praktik mark-up, manipulasi laporan pertanggungjawaban (LPJ), hingga kegiatan fiktif.

‎Sorotan ini semakin menguat setelah LSM GPKD (Gerakan Pemantau Keuangan Daerah) mengungkap adanya pola penggunaan anggaran yang berulang dengan nominal besar pada beberapa sektor yang dinilai rawan penyimpangan.

‎Selasa, 10 Maret 2026, tim investigasi media mencoba menelusuri kondisi fisik sekolah serta mencocokkan sejumlah item pengeluaran dengan fakta di lapangan.


‎Total Anggaran BOS Dua Tahun Capai Miliaran Rupiah

‎Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan penggunaan BOSP, SMAN Tugumulyo menerima dana dalam jumlah sangat besar selama dua tahun terakhir.

‎Tahun Anggaran 2024
‎Jumlah siswa : 1.108 siswa
‎Total dana diterima:
‎Tahap 1 : Rp 831.000.000

‎Tahap 2 : Rp 831.000.000
‎Total 2024 : Rp 1.662.000.000
‎Tahun Anggaran 2025
‎Jumlah siswa meningkat dan dana kembali dikucurkan:
‎Tahap 1 : Rp 822.702.000
‎Tahap 2 (perkiraan nominal sama) : Rp 822.702.000
‎Total 2025 : Rp 1.645.404.000
‎Total Dana BOS 2024 – 2025
‎Jika digabungkan dua tahun:
‎Rp 3.307.404.000 (lebih dari 3,3 Miliar Rupiah)

‎Besarnya anggaran tersebut menjadi alasan kuat bagi publik dan lembaga pemantau untuk melakukan pengawasan ketat terhadap penggunaannya.



‎Pos Anggaran “Basah” Diduga Jadi Celah Mark-Up

‎Ketua LSM GPKD, Shandi Cikmat SH, menyoroti beberapa pos pengeluaran yang dianggap berpotensi menjadi celah penyimpangan anggaran.

‎1. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana

‎Anggaran : Rp 198.288.100

‎Pos ini menjadi salah satu yang paling disorot.

‎Berdasarkan hasil pantauan awak media di lingkungan sekolah, kondisi sejumlah bangunan tidak menunjukkan adanya perbaikan besar sebagaimana besarnya anggaran yang tercatat.

‎Dugaan yang muncul:

‎Manipulasi volume pekerjaan pada pengecatan ruang kelas dan perbaikan dinding.

‎Penggunaan nota pembelian material bangunan diduga “nota tembakan” dari toko tertentu.

‎Perbaikan ringan seperti penggantian keramik atau plafon diduga dilaporkan dalam jumlah lebih besar dari realisasi.


‎Jika dihitung secara sederhana, menurut analisis pihak investigator:

‎Biaya pengecatan ruang kelas rata-rata hanya sekitar Rp 3 – 5 juta per ruangan, sementara jika mengacu pada anggaran hampir Rp 200 juta, maka seharusnya ada renovasi besar yang terlihat jelas di lingkungan sekolah.

‎Namun temuan di lapangan tidak menunjukkan perubahan signifikan.


‎2. Pengembangan Perpustakaan
‎Anggaran : Rp 197.398.000
‎Pos ini juga dinilai sangat rawan penyimpangan karena berkaitan dengan pengadaan buku.


‎Jumlah buku di perpustakaan tidak sebanding dengan anggaran hampir Rp 200 juta.Diduga terjadi mark-up harga buku dari distributor.

‎Potensi pengadaan buku fiktif yang hanya tercatat di LPJ namun tidak ditemukan secara fisik.Dalam beberapa kasus pengelolaan BOS di daerah lain, modus yang sering terjadi adalah:

‎Distributor menaikkan harga buku 20% – 40% di atas HET Sekolah menerima fee tertentu dari selisih harga Pola tersebut kini diduga juga terjadi pada pengadaan buku di SMAN Tugumulyo.



‎3. Administrasi Kegiatan Sekolah / ATK
‎Anggaran : Rp 142.963.900
‎Pengeluaran alat tulis kantor (ATK) mencapai Rp 142 juta hanya dalam satu tahap dianggap tidak rasional.

‎Beberapa item yang sering menjadi modus mark-up antara lain:
‎Tinta printer Kertas fotokopi Map arsip
‎Penggandaan soal ujian


‎Dugaan yang muncul:
‎Harga barang dilaporkan lebih tinggi dari harga pasar Volume pembelian dilebihkan Nota pembelian dibuat dalam jumlah besar untuk menyesuaikan laporan.


‎Jika dihitung secara kasar, dana Rp 142 juta untuk ATK dalam satu semester berarti sekitar Rp 23 juta per bulan, angka yang dianggap terlalu tinggi untuk operasional administrasi sekolah.



‎4. Kegiatan Pembelajaran dan Ekstrakurikuler Anggaran : Rp 124.117.000 Pos ini juga dinilai sangat rawan manipulasi karena berkaitan dengan kegiatan yang seringkali sulit diverifikasi.


‎Kegiatan dilaporkan dengan biaya besar namun pelaksanaannya sederhana. Tumpang tindih pendanaan antara dana BOS dan dana komite. Laporan kegiatan dibuat lengkap, namun realisasi kegiatan tidak sesuai dengan anggaran.


‎Beberapa kegiatan yang sering dijadikan modus menurut investigator antara lain:
‎Workshop siswa Pelatihan ekstrakurikuler
‎Kegiatan lomba Seminar pendidikan
‎Temuan Awak Media di Lapangan Dalam investigasi awal, awak media melaku( Redaksi)

WhatsApp Facebook